Langsung ke konten utama

Unggulan

Ki Ageng Suryomentaram: Pencari Bahagia di Balik Kemewahan Istana

 Perjalanan dari Istana ke Kesederhanaan Ki Ageng Suryomentaram, lahir pada 20 Mei 1892, adalah putra ke-55 dari Sri Sultan Hamengku Buwono VII dan Bendoro Raden Ayu Retnomandojo. Awalnya bergelar Bendoro Pangeran Haryo (BPH) Suryomentaram, ia dikenal sebagai bangsawan yang memutuskan untuk meninggalkan kemewahan istana demi mencari makna kehidupan sejati. Pencarian ini bermula saat ia menyaksikan beratnya perjuangan para petani di sawah, sebuah pemandangan yang mengguncang batinnya. Tak lama kemudian, ia meninggalkan istana dan mengembara dengan nama samaran Natadangsa, menjalani hidup sebagai pedagang batik, petani, hingga kuli. Kesederhanaan hidup ini membuka hatinya untuk memahami makna kebahagiaan sejati. Filsafat Bahagia: Kawruh Begja Ki Ageng Suryomentaram menjadi guru dari aliran kebatinan bernama Kawruh Begja (Ilmu Bahagia). Ajarannya yang terkenal, Aja Dumeh (jangan menyombongkan diri), menekankan pentingnya kerendahan hati dan menghargai kesetaraan manusia. Menurutnya, b...

Kebangkitan Sastra Jawa Di Era Milenial

 

    Sastra Jawa merupakan wadah dari berbagai karya sastra yang berada didaerah Jawa. Karya sastra jawa seperti prosa klasik, puisi lama (tembang), cerkak, geguritan, serta novel jawa. Sastra jawa pernah mengalami masa keterpurukan setelah sepeninggalnya ranggawarsita banyak terjadi perubuhan besar pada kasusastraan jawa. Akan tetapi pada era sekarang karya sastra semakin bermunculan dan banyak modifikasi yang ada, bahkan karya sastra jawa pun hari demi hari semakin bangkit.

    Pujangga keraton diera kerajaan sangat berperan penting, karya sastra pujangga tidak hanya sebatas karya seni semata, akan tetapi mengandung daya imajinsi, spiritual, bahkan menjadi pedoman (pakem)bagi kerajaan.  Setelah sepeninggalnya Ranggawarsita, berakhir juga masa pujangga keraton yang dinilai menjadi perubahan besar. Masa itu mulai muncul budaya barat seiring dengan kedatangan penjajah dipulau jawa serta awal dari pemakaian bahasa indonesia. Perubahan budaya atau cara hidup masyarakat jawa setidaknya melahirkan tuntutan adanya bentuk ungkap sastra yang sesuai dengan perubahan yang terjadi. Menyebabkan sastrawan diluar keraton mulai bangkit kembali dan menghidupkan kasusastraan jawa dengan wajah baru (modern). Pada kasusastraan jawa modern terjadi pergeseran tradisi tulisan tangan ke tradisi cetakan serta muncul jenis sastra baru dan penggunaan bahasa pengantar, banyak pengarang pada jawa modern dipengaruhi oleh genre karya sastra barat karena latar belakang pendidikan seperti novel, sajak bebas, cerkak agar khalayak umum mudah memahami.

    Namun sayang hal itu belum bisa diterima sepenuhnya oleh masyarakat jawa sendiri. Pergerakan sastra jawa pada saat ini memang lambat karena terpakunya para pengarang pada pedoman yang berlaku pada pembuatan karya karya terdahulu. Belum lagi penggunaan bahasa jawa semakin tergeserkan oleh bahasa indonesia dan masuknya bahasa asing bahkan banyak para pengarang asli pribumi lebih senang mempopulerkan karyanya dengan bahasa indonesia, karena dianggap bahasa jawa sudah kuno dan bersifat kedaerahan. Bahkan kurikulum 1975 meniadakan bahasa daerah sebagai mapel wajib, ada 740 bahasa daerah dan beberapa diantaranya punah. Keterpurukan bahasa daerah dianggap bahwa bahasa dan sastra daerah tidak menjanjikan masa depan. Namun pada 2004 bahasa, sasra, dan budaya jawa diterapkan kembali menjadi muatan lokal wajib. Tetapi belum mewujudkan kepedulian terhadap bahasa, sastra, dan budaya daerahnya. Seiring maju dan pesatnya bidang teknologi bahasa Indonesia makin popular, Tumbangnya orde baru semakin memperteguh kedudukan bahasa Indonesia, sementara pers berbahasa Jawa makin ditinggalkan sehingga beberapa di antaranya hilang dari peredaran.

    Hal tersebut memberikan dampak negatif terhadap generasi muda yang mana mereka adalah sebagai pewaris bahasa Jawa yang seharusnya bisa melestarikan kasusastraan Jawa. Dengan adanya muatan lokal, generasi muda mendapatkan ilmu dan bekal dasaran tentang kesusastraan Jawa. Dari muatan lokal tersebut, para generasi muda mencoba untuk menerapkan apa yang di peroleh dari muatan lokal tersebut seperti para anak muda yang mulai mengungkapkan keadaannya dengan menggunakan bahasa Jawa sehingga menjadi suatu kesusastraan Jawa. Pada saat itu belum banyak para pemuda tertarik dengan kesuasutraan Jawa.

    Pada tahun 2017 akhir, mulai muncul sastra Jawa modern yang di balut dengan modifikasi baru yang dapat mengikuti perkembangan zaman. Yang mana bahasa Jawa disampaikan dengan semenarik mungkin yang dapat diterima di kalangan pemuda. Contohnya adalah geguritan Jawa modern yang dibawakan dengan musik campursari yaitu menggunakan alat musik modern maupun tradisional.  Alat musik yang digunakan adalah gendhang, saron, demung, gender, gong, rebab, siter, clempung, gitar, kyboard, dan drum set. Lagu pengiring dapat menambah daya tarik generasi muda yang mana sebelumnya merasakan bosan dan dengan adanya pengiring tersebut mereka dapat menerima isi dari apa yang disampaikan penulis.

    Tidak hanya itu, lagu-lagu yang dipopulerkan oleh penyair hebat seperti Didik Kempot dengan nama asli Didi Prasetyo yang dijuluki Godfather og Broken Heart ini mempu memasuki kehidupan generasi muda terutama pemuda yang sedang sedang sedih dalam urusan percintaan. Bahkan nama fanspage dari Didi Kempot sendiri mayrotias dari kalangan pemuda sekitar 15 ke atas dengan nama “Sobat Ambyar”. Ambyar adalah kata dari bahasa Jawa yang artinya patah hati atau bercerai berai. Didi Kempot mampu menciptakan lagu yang sesuai dengan keadaan yang di alami para pendengar.

    Munculnya Didi Kempot yang berhasil membumingkan lagu dengan mengangkat bahasa Jawa sampai ke penjuru dunia. Tidak hanya di Pulau Jawa saja, lagu-lagu bernuansa Jawa dapat diterima dan dinikmati oleh pendengar dari luar pulau maupun luar negeri. Walaupun tidak semua pendengar paham akan apa yang disampaikan penyair, akan tetapi mereka sangat menikmati, jika timbul rasa penasaran mereka mencari info dan belajar bahasa Jawa melalui teknologi yang makin canggih seperti google, youtube, instagram, meta dan lain sebagainya. Tidak ada batasan generasi muda untuk belajar tentang bahasa Jawa karena semua sudah tersajikan.

    Generasi muda mulai terinspirasi untuk melestarikan kesusastraan Jawa dengan menciptakan puisi Jawa modern yang di bawakan dengan instrumen musik modern. Contohnya seperti Denny Caknan, Happy Asmara, Nella Kharisma, Via Vallen dan lain sebagainya. Mereka adalah penyair muda lagu berbahasa Jawa yang mampu menyandingi musik di kancah Internasional.

    Kasusastraan Jawa Modern memiliki banyak genre seperti geguritan, roman, cerkak, dan novel. Semua genre tersebut sedikit demi sedikit sudah mengalami kebangkitan terbukti banyaknya sastra yang tersebar luas melalui media. Sastrawan Jawa sudah sangat kreatif dan inovatif mengembangkan serta menyebarkan karyanya agar banyak di terima oleh penikmat kasusastraan Jawa. Meskipun sastra Jawa modern saat ini bersifat bebas dan tidak terlalu mengacu pada aturan-aturan tertentu seperti sastra Jawa tradisional. Tujuan penciptaan sastra Jawa pada saat ini adalah bagaimana sastra Jawa bisa diterima kembali oleh masyarakat jawa sendiri,sedangkan sastra Jawa jaman dahulu lebih mengacu pada aturan dan bahasanya sulit untuk dipahami sehingga sulit diterima di masyarakat. (MNI)

Komentar

Postingan Populer