Unggulan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Kebangkitan Sastra Jawa Di Era Milenial
Sastra
Jawa merupakan wadah dari berbagai karya sastra yang berada didaerah Jawa.
Karya sastra jawa seperti prosa klasik, puisi lama (tembang), cerkak,
geguritan, serta novel jawa. Sastra jawa pernah mengalami masa keterpurukan
setelah sepeninggalnya ranggawarsita banyak terjadi perubuhan besar pada
kasusastraan jawa. Akan tetapi pada era sekarang karya sastra semakin
bermunculan dan banyak modifikasi yang ada, bahkan karya sastra jawa pun hari demi hari semakin bangkit.
Pujangga
keraton diera kerajaan sangat berperan penting, karya sastra pujangga tidak
hanya sebatas karya seni semata, akan tetapi mengandung daya imajinsi,
spiritual, bahkan menjadi pedoman (pakem)bagi kerajaan. Setelah sepeninggalnya Ranggawarsita,
berakhir juga masa pujangga keraton yang dinilai menjadi perubahan besar. Masa
itu mulai muncul budaya barat seiring dengan kedatangan penjajah dipulau jawa
serta awal dari pemakaian bahasa indonesia. Perubahan budaya atau cara hidup
masyarakat jawa setidaknya melahirkan tuntutan adanya bentuk ungkap sastra yang
sesuai dengan perubahan yang terjadi. Menyebabkan sastrawan diluar keraton
mulai bangkit kembali dan menghidupkan kasusastraan jawa dengan wajah baru
(modern). Pada kasusastraan jawa modern terjadi pergeseran tradisi tulisan
tangan ke tradisi cetakan serta muncul jenis sastra baru dan penggunaan bahasa
pengantar, banyak pengarang pada jawa modern dipengaruhi oleh genre karya
sastra barat karena latar belakang pendidikan seperti novel, sajak bebas,
cerkak agar khalayak umum mudah memahami.
Namun
sayang hal itu belum bisa diterima sepenuhnya oleh masyarakat jawa sendiri. Pergerakan
sastra jawa pada saat ini memang lambat karena terpakunya para pengarang pada
pedoman yang berlaku pada pembuatan karya karya terdahulu. Belum lagi
penggunaan bahasa jawa semakin tergeserkan oleh bahasa indonesia dan masuknya
bahasa asing bahkan banyak para pengarang asli pribumi lebih senang
mempopulerkan karyanya dengan bahasa indonesia, karena dianggap bahasa jawa
sudah kuno dan bersifat kedaerahan. Bahkan kurikulum 1975 meniadakan bahasa
daerah sebagai mapel wajib, ada 740 bahasa daerah dan beberapa diantaranya
punah. Keterpurukan bahasa daerah dianggap bahwa bahasa dan sastra daerah tidak
menjanjikan masa depan. Namun pada 2004 bahasa, sasra, dan budaya jawa
diterapkan kembali menjadi muatan lokal wajib. Tetapi belum mewujudkan
kepedulian terhadap bahasa, sastra, dan budaya daerahnya. Seiring
maju dan pesatnya bidang teknologi bahasa Indonesia makin popular, Tumbangnya
orde baru semakin memperteguh kedudukan bahasa Indonesia, sementara pers
berbahasa Jawa makin ditinggalkan sehingga beberapa di antaranya hilang dari
peredaran.
Hal
tersebut memberikan dampak negatif terhadap generasi muda yang mana mereka
adalah sebagai pewaris bahasa Jawa yang seharusnya bisa melestarikan
kasusastraan Jawa. Dengan adanya muatan lokal, generasi muda mendapatkan ilmu
dan bekal dasaran tentang kesusastraan Jawa. Dari muatan lokal tersebut, para
generasi muda mencoba untuk menerapkan apa yang di peroleh dari muatan lokal
tersebut seperti para anak muda yang mulai mengungkapkan keadaannya dengan
menggunakan bahasa Jawa sehingga menjadi suatu kesusastraan Jawa. Pada saat itu
belum banyak para pemuda tertarik dengan kesuasutraan Jawa.
Pada
tahun 2017 akhir, mulai muncul sastra Jawa modern yang di balut dengan
modifikasi baru yang dapat mengikuti perkembangan zaman. Yang mana bahasa Jawa
disampaikan dengan semenarik mungkin yang dapat diterima di kalangan pemuda.
Contohnya adalah geguritan Jawa modern yang dibawakan dengan musik campursari
yaitu menggunakan alat musik modern maupun tradisional. Alat musik yang digunakan adalah gendhang,
saron, demung, gender, gong, rebab, siter, clempung, gitar, kyboard, dan drum
set. Lagu pengiring dapat menambah daya tarik generasi muda yang mana
sebelumnya merasakan bosan dan dengan adanya pengiring tersebut mereka dapat
menerima isi dari apa yang disampaikan penulis.
Tidak
hanya itu, lagu-lagu yang dipopulerkan oleh penyair hebat seperti Didik Kempot
dengan nama asli Didi Prasetyo yang dijuluki Godfather og Broken Heart ini
mempu memasuki kehidupan generasi muda terutama pemuda yang sedang sedang sedih
dalam urusan percintaan. Bahkan nama fanspage dari Didi Kempot sendiri
mayrotias dari kalangan pemuda sekitar 15 ke atas dengan nama “Sobat Ambyar”.
Ambyar adalah kata dari bahasa Jawa yang artinya patah hati atau bercerai
berai. Didi Kempot mampu menciptakan lagu yang sesuai dengan keadaan yang di
alami para pendengar.
Munculnya
Didi Kempot yang berhasil membumingkan lagu dengan mengangkat bahasa Jawa
sampai ke penjuru dunia. Tidak hanya di Pulau Jawa saja, lagu-lagu bernuansa
Jawa dapat diterima dan dinikmati oleh pendengar dari luar pulau maupun luar
negeri. Walaupun tidak semua pendengar paham akan apa yang disampaikan penyair,
akan tetapi mereka sangat menikmati, jika timbul rasa penasaran mereka mencari
info dan belajar bahasa Jawa melalui teknologi yang makin canggih seperti google,
youtube, instagram, meta dan lain sebagainya. Tidak ada batasan generasi
muda untuk belajar tentang bahasa Jawa karena semua sudah tersajikan.
Generasi
muda mulai terinspirasi untuk melestarikan kesusastraan Jawa dengan menciptakan
puisi Jawa modern yang di bawakan dengan instrumen musik modern. Contohnya
seperti Denny Caknan, Happy Asmara, Nella Kharisma, Via Vallen dan lain
sebagainya. Mereka adalah penyair muda lagu berbahasa Jawa yang mampu menyandingi
musik di kancah Internasional.
Kasusastraan Jawa Modern memiliki banyak genre seperti geguritan, roman, cerkak, dan novel. Semua genre tersebut sedikit demi sedikit sudah mengalami kebangkitan terbukti banyaknya sastra yang tersebar luas melalui media. Sastrawan Jawa sudah sangat kreatif dan inovatif mengembangkan serta menyebarkan karyanya agar banyak di terima oleh penikmat kasusastraan Jawa. Meskipun sastra Jawa modern saat ini bersifat bebas dan tidak terlalu mengacu pada aturan-aturan tertentu seperti sastra Jawa tradisional. Tujuan penciptaan sastra Jawa pada saat ini adalah bagaimana sastra Jawa bisa diterima kembali oleh masyarakat jawa sendiri,sedangkan sastra Jawa jaman dahulu lebih mengacu pada aturan dan bahasanya sulit untuk dipahami sehingga sulit diterima di masyarakat. (MNI)
Komentar
Posting Komentar