Langsung ke konten utama

Unggulan

Ki Ageng Suryomentaram: Pencari Bahagia di Balik Kemewahan Istana

 Perjalanan dari Istana ke Kesederhanaan Ki Ageng Suryomentaram, lahir pada 20 Mei 1892, adalah putra ke-55 dari Sri Sultan Hamengku Buwono VII dan Bendoro Raden Ayu Retnomandojo. Awalnya bergelar Bendoro Pangeran Haryo (BPH) Suryomentaram, ia dikenal sebagai bangsawan yang memutuskan untuk meninggalkan kemewahan istana demi mencari makna kehidupan sejati. Pencarian ini bermula saat ia menyaksikan beratnya perjuangan para petani di sawah, sebuah pemandangan yang mengguncang batinnya. Tak lama kemudian, ia meninggalkan istana dan mengembara dengan nama samaran Natadangsa, menjalani hidup sebagai pedagang batik, petani, hingga kuli. Kesederhanaan hidup ini membuka hatinya untuk memahami makna kebahagiaan sejati. Filsafat Bahagia: Kawruh Begja Ki Ageng Suryomentaram menjadi guru dari aliran kebatinan bernama Kawruh Begja (Ilmu Bahagia). Ajarannya yang terkenal, Aja Dumeh (jangan menyombongkan diri), menekankan pentingnya kerendahan hati dan menghargai kesetaraan manusia. Menurutnya, b...

Mengenal Lebih Dekat Pegelaran Ketoprak "Kembang Cempa Mulya"

 



Semarang-Dalam rangka Dies Natalis ke-38, Universitas Negri Semarang(UNNES) menyelenggarakan kegiatan hiburan pesta rakyat berupa pentas seni pagelaran ketoprak dengan lakok Kembang Cempaka Mulya di dalam Auditorium Prof Wuryanto Sekaran, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang pada Senin (29/5/2023).

            Mungkin kebanyakan orang dengar kata ketoprak sebagai sebuah makanan yang biasa ditemui di pinggir jalan. Namun tenyata tidak hanya itu, nama ketoprak juga terdapat pada kesenian tradisional, yaitu kesenian ketoprak. Ketoprak sendiri merupakan salah satu jenis teater rakyat yang berkembang diwilayah Jawa Tengah, ada juga di daerah Jawa Timur.

            Dari beberapa sumber kata ketoprak berasal dari kata prak yang merupakan bunyi alat musik tradisional tiprak. Alat musik tersebut bila dimainkan mengeluarkan bunyi prak…prak. Ketoprak berkembang dilingkungan masyarakat desa sebagai hiburan dengan menabuh lesung secara berirama pada saat gejog (bulan purnama). Seiring berkembangnya masa ketoprak mengalami perubahan mulai ditambah dengan tembang-tembang, gamelan dan lain sebagainya.

            Untuk pertama kali ketoprak pentas pada tahun 1909 dalam pertunjukan lengkap. Ketoprak yang pertama kali ditampilkan yaitu Ketoprak Wreksotomo. Ketoprak tersebut dibentuk oleh Ki Wisangkoro. Setelah awal pertunjukan ketoprak, perkembangan ketoprak maju secara cepat dan diminati oleh masyarakat. Ada beberapa jenis pertunjukan ketoprak diantaranya kotekan lesung, ketoprak lesung, ketoprak gamelan, ketoprak pendopo, dan ketoprak panggung.

            Dalam pertunjukan ketoprak menyajikan cerita-cerita yang bervariasi, mulai dari cerita rakyat, dongeng, babad, sejarah, legenda, dan lain sebagainya. Kisah Ande-ande Lumut, Angling Darmo, Panji Asmorobangun, hingga Kembang Cempaka Mulya seperti yang ada dalam rangkaian Dies Natalis ke-58 UNNES.

            Pagelaran ketoprak di UNNES melakukan koloborasi dengan artis-artis dari Bakar Production. Pagelaran tersebut mengangkat lakon “Kembang Cempaka Mulya” dalam hal ini para petinggi UNNES yang melakonkan sendiri. Mulai dari Rektor hingga Dekan dan dosen yang ada di Universitas Negri Semarang.           

            Rektor UNNES, Prof. Dr. S. Martono, M.si. membuka pagelaran dengan ciamik bahkan dalam sambutannya bapak Rektor menyampaikan bahwa UNNES mendapatkan penghargaan sebagai pengelola KIP kuliah terbaik dalam Augrah Merdeka Belajar 2023 di gedung Tri Murti Prambanan Jogjakarta, Senin(29/5/2023).

            Turut memeriahkan, Sekertaris UNNES yang bertugas menjadi Ki Prana Jati. Dalam tugasnya berperan sebagai pimpinan padepokan segawe. Tidak hanya Sekertaris UNNES saja banyak juga nama nama besar di UNNES yang turut memeriahkan, Direktur Pascasarjana Prof. Dr. Fathur Rohkman, M.Hum. dan Dekan-Dekan yang ada di Universitan Negri Semarang.

            Ceritakan Ki Prana Jati membuat sayembara untuk menguji kesaktian para siswanya dalam hal ini untuk membawa pulang Kembang Cempaka Mulya yang belum diketahui pasti keberadaanya. Namun Ki Prana Jati hanya memberikan informasi bahwa kembang tersebut ada di Gunung Lawu.

            Ditengah cerita dimasuki bumbu bumbu guyonan rakyat dan juga kritik sosial yang ada dimasa kini. Mulai dari memanasnya isu politik yang sedang berjalan sampai guyonan yang membuat penonton ketawa bahagia. Ada juga perang perseteruan rumah tangga dan juga penampilan yang apik dari para artis Bakar Production.

             Prof  Dr S Martono menyatakan, Ketoprak bisa menjadi sarana pendekatan semi modern untuk mengenalkan dan menghidupkan budaya jawa yang mengandung filosofi tinggi(Senin, 29/5/2023). Dalam hal ini Prof  Dr S Martono tidak bisa mengikuti pementasan ketoprak sebagai pemain karena harus menghadiri beberapa acara akademisi bahkan Rektor UNNES tersebut sudah tiga kali latihan dengan para pemain lainnya.

            Pagelaran Ketoprak Kolaborasi ditutup dengan kemeriahan dan pesan pesan yang ada dalam ketoprak Kembang Cempaka Mulya. Pesan tersebut diungkap oleh pemainnya, Kembang Cempaka Mulya merupakan merupakan perlambangan sebuah evolusi global harus tetap harum dan selalu bercita cita untuk selalu belajar agar mecapai kemuliaan.

            Beberapa tanggapan dari para penonton yang hadir salah satunya yaitu Aprilia Ayu Ningtias Mahasiswa UNNES, pagelaran seni budaya ketoprak sangat bagus dan istimewa padahal yang tambil para petinggi UNNES akan tetapi tidak mengurangi astetika yang ada dalam pagelaran seni ketoprak tadi. Senin(29/5/2023).

Komentar

Postingan Populer