Langsung ke konten utama

Unggulan

Ki Ageng Suryomentaram: Pencari Bahagia di Balik Kemewahan Istana

 Perjalanan dari Istana ke Kesederhanaan Ki Ageng Suryomentaram, lahir pada 20 Mei 1892, adalah putra ke-55 dari Sri Sultan Hamengku Buwono VII dan Bendoro Raden Ayu Retnomandojo. Awalnya bergelar Bendoro Pangeran Haryo (BPH) Suryomentaram, ia dikenal sebagai bangsawan yang memutuskan untuk meninggalkan kemewahan istana demi mencari makna kehidupan sejati. Pencarian ini bermula saat ia menyaksikan beratnya perjuangan para petani di sawah, sebuah pemandangan yang mengguncang batinnya. Tak lama kemudian, ia meninggalkan istana dan mengembara dengan nama samaran Natadangsa, menjalani hidup sebagai pedagang batik, petani, hingga kuli. Kesederhanaan hidup ini membuka hatinya untuk memahami makna kebahagiaan sejati. Filsafat Bahagia: Kawruh Begja Ki Ageng Suryomentaram menjadi guru dari aliran kebatinan bernama Kawruh Begja (Ilmu Bahagia). Ajarannya yang terkenal, Aja Dumeh (jangan menyombongkan diri), menekankan pentingnya kerendahan hati dan menghargai kesetaraan manusia. Menurutnya, b...

Ngunduh Wohing Pakarti

Peribahasa di atas secara harfiah berarti memanen buah pekerjaan/tindakan. Secara luas peribahasa ini ingin mengajarkan tentang orang yang menuai dari buah tindakannya sendiri. Hal ini dapat dicontohkan misalnya karena seseorang selalu mencelakai atau merugikan orang lain, maka pada suatu ketika ia pun akan diperlakukan demikian pula oleh orang lain.


Peribahasa ini sesungguhnya merupakan representasi dari paham kepercayaan akan hukum karma yang sampai sekarang masing dianut oleh banyak orang Jawa (Indonesia). Peribahasa tersebut menjadi penanda akan adanya keyakinan hukum harmonium alam raya. Hal ini bisa dicontohkan pula misalnya karena manusia menebangi hutan semaunya, maka bencana banjir, tanah longsor dan kekeringan pun mengancam. Dapat saja terjadi bahwa undhuh-undhuhan atau panen dari pakarti itu tidak mengenai orang yang berbuat namun mengenai saudara, anak, cucu, pasangan hidup, dan keturunannya.


Oleh karena itu, bagi orang yang percaya pada paham ini mereka akan takut berbuat negatif karena mereka percaya bahwa hal yang negatif itu nantinya akan mengenai dirinya sendiri, saudara, dan keturunannya.

Komentar

Postingan Populer