Langsung ke konten utama

Unggulan

Ki Ageng Suryomentaram: Pencari Bahagia di Balik Kemewahan Istana

 Perjalanan dari Istana ke Kesederhanaan Ki Ageng Suryomentaram, lahir pada 20 Mei 1892, adalah putra ke-55 dari Sri Sultan Hamengku Buwono VII dan Bendoro Raden Ayu Retnomandojo. Awalnya bergelar Bendoro Pangeran Haryo (BPH) Suryomentaram, ia dikenal sebagai bangsawan yang memutuskan untuk meninggalkan kemewahan istana demi mencari makna kehidupan sejati. Pencarian ini bermula saat ia menyaksikan beratnya perjuangan para petani di sawah, sebuah pemandangan yang mengguncang batinnya. Tak lama kemudian, ia meninggalkan istana dan mengembara dengan nama samaran Natadangsa, menjalani hidup sebagai pedagang batik, petani, hingga kuli. Kesederhanaan hidup ini membuka hatinya untuk memahami makna kebahagiaan sejati. Filsafat Bahagia: Kawruh Begja Ki Ageng Suryomentaram menjadi guru dari aliran kebatinan bernama Kawruh Begja (Ilmu Bahagia). Ajarannya yang terkenal, Aja Dumeh (jangan menyombongkan diri), menekankan pentingnya kerendahan hati dan menghargai kesetaraan manusia. Menurutnya, b...

Wong Jawa Ojo Ilang Jawane

 


Tak jarang kita mendengar kalimat “wong Jawa ojo ilang Jawane”  jika diartikan dalam bahasa Indonesia yaitu orang Jawa jangan hilang Jawanya. Kalimat tersebut seringkali terlintas dalam media sosial apabila ada konten tentang praktik masyarakat Jawa yang sedang melakukan tradisi seperti larung sesaji, grebeg suro, jamasan pusaka/mencuci pusaka pada bulan tertentu, dan sebagainya. Orang jawa zaman dahulu jika berbicara halus dan penuh tata krama. Mereka berkomunikasi satu sama lain menggunakan bahasa jawa yang sesuai dengan unggah-ungguhnya. Bahasa jawa adalah bahasa ibu suku jawa.

Bahasa jawa yang sehari-hari kita gunakan ada bahasa jawa krama dan bahasa jawa ngoko. Bahasa jawa krama dan bahasa jawa ngoko tersebut  disebut dengan unggah ungguh basa. Namun di masa sekarang ini, berbicara bahasa jawa, unggah ungguh bahasa jawa sudah mulai dikesampingkan. Contohnya anak-anak sekarang sudah biasa berbicara bahasa jawa ngoko kepada orang tuanya. Hal seperti itu seharusnya adalah suatu hal yang tidak sopan. Namun, perilaku tersebut untuk masa sekarang ini sudah dianggap hal yang biasa. Kemajuan peradaban di era globalisasi ini sangat berpengaruh besar bagi kehidupan dan menjadi suatu pelopor dalam globalisasi, menurut Robertson (1992, dalam Agustin 2011) era globalisasi merupakan era bersatunya masyarakat dunia dalam segi gaya hidup, orientasi dan budaya. 

Tentunya globalisasi ini dapat kita katakan adalah produk dari barat yang terkenal akan budaya individualisme, gaya hidup bebas, dan beberapa budaya yang berlawanan terhadap nilai-nilai kearifan budaya Jawa. Jika kita orang Jawa maka harus menunjukkan identitas kita sebagai orang Jawa, jika kita orang betawi maka kita harus menunjukkan identitas sebagai orang Betawi, begitu seterusnya. Nilai-nilai masyarakat Jawa disini dapat ditingkatkan melalui beberapa hal antara lain menggunakan bahasa Jawa. Selain itu, pelestarian budaya juga menjadi salah satu faktor penting yang menunjukkan identitas seseorang khususnya orang Jawa. Adanya praktik budaya seperti pentas kesenian, upacara-upacara adat dapat diikuti oleh masyarakat khususnya pemuda agar kelestariannya tetap terjaga.

Bukan hanya itu, dalam pelestarian kebudayaan, pemerintah juga memiliki peranan penting didalamnya yaitu mengimplementasikan kebijakan-kebijakan yang mengarah pada upaya pelestarian kebudayaan nasional. Pemerintah juga dapat lebih memusatkan perhatiannya pada pendidikan muatan lokal dan pemuda yang diberikan suatu wadah untuk meningkatkan kreatifitas. Agar menjadi bangsa yang besar kita harus menghargai budaya kita sendiri jangan sampai kita menghilangkan budaya kita sendiri karena kita lebih menyukai budaya lain. Jika kita orang jawa maka kita harus menunjukkan bahwa kita orang jawa. Jadi jangan sampai kita menghilangkan jati diri kita sebagai orang jawa. (MNI)

 

Komentar

Postingan Populer